Bagian I — FONDASI
Bab 1
TUHAN MEMILIKI SEGALA SESUATU
Fondasi pertama untuk memahami kekayaan menurut Alkitab
Sebelum kita berbicara tentang uang, bisnis, investasi, pekerjaan, kesuksesan, atau kekayaan, ada satu kebenaran yang harus diletakkan paling awal:
Segala sesuatu adalah milik Tuhan.
Kita tidak dapat memahami kekayaan menurut Alkitab tanpa terlebih dahulu memahami siapa yang menjadi Pemilik segala sesuatu.
Alkitab tidak memulai pembicaraan tentang kekayaan dengan pertanyaan:
"Berapa banyak yang bisa saya miliki?"
Alkitab membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
"Siapa yang memiliki segala sesuatu?"
Jawabannya adalah:
Tuhan.
1.1 TUHAN ADALAH PENCIPTA DAN PEMILIK
Mazmur 24:1 berkata:
"Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya."
Ayat ini memberikan fondasi yang sangat penting.
Bumi adalah milik Tuhan.
Segala sesuatu yang ada di dalamnya juga milik Tuhan.
Sumber daya alam, tanah, kemampuan manusia, waktu, kesempatan, kehidupan, bahkan napas kita—semuanya pada akhirnya berasal dari Dia.
Kita hidup di dalam dunia yang diciptakan Tuhan, bukan dunia yang kita ciptakan sendiri.
Karena itu, ketika seseorang memperoleh uang, membangun bisnis, membeli rumah, mengumpulkan aset, atau mencapai keberhasilan finansial, ia tidak sedang menciptakan sesuatu dari ketiadaan.
Ia sedang bekerja dengan sesuatu yang terlebih dahulu berasal dari Tuhan.
1.2 APA ARTINYA "MEMILIKI"?
Di dunia modern, kepemilikan biasanya dipahami sebagai:
"Ini milikku, jadi aku bebas melakukan apa pun yang aku inginkan dengannya."
Tetapi perspektif Alkitab jauh lebih dalam.
Alkitab mengajarkan bahwa manusia dapat memiliki dan menggunakan sesuatu secara nyata, tetapi Tuhan tetap merupakan Pemilik tertinggi.
Daud memahami hal ini dengan sangat jelas.
Ketika bangsa Israel memberikan persembahan untuk pembangunan Bait Suci, Daud berkata:
“Sebab segala-galanya dari pada-Mu dan dari tangan-Mu sendirilah kami memberi kepada-Mu.”
Perhatikan logikanya.
Mereka memberi kepada Tuhan sesuatu yang sebenarnya terlebih dahulu berasal dari Tuhan.
Ini mengubah cara kita memandang harta.
Uang kita.
Pekerjaan kita.
Bisnis kita.
Rumah kita.
Talenta kita.
Waktu kita.
Semuanya berada di bawah kepemilikan Tuhan.
1.3 KITA ADALAH PENATALAYAN
Jika Tuhan adalah Pemilik, lalu siapakah kita?
Kita adalah penatalayan.
Stewardship (penatalayanan) berarti mengelola sesuatu yang dipercayakan kepada kita dengan tanggung jawab, hikmat, dan kesetiaan.
Seorang penatalayan tidak bertanya:
"Bagaimana aku bisa menggunakan semuanya untuk diriku sendiri?"
Ia bertanya:
"Apa yang ingin Pemilik lakukan melalui apa yang telah dipercayakan kepadaku?"
Inilah perubahan pola pikir yang sangat penting.
Kita tidak hanya bertanya:
"Berapa banyak yang Tuhan berikan kepadaku?"
Tetapi:
"Mengapa Tuhan mempercayakan ini kepadaku?"
Pertanyaan kedua membawa kita dari sekadar possession (kepemilikan) menuju purpose (tujuan).
1.4 TUHAN DAPAT MEMERCAYAKAN KEKAYAAN
Alkitab tidak menggambarkan kekayaan hanya sebagai sesuatu yang harus dicurigai.
Dalam Ulangan 8:18, Musa berkata:
"Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan..."
Ayat ini penting karena menunjukkan bahwa kemampuan untuk menghasilkan kekayaan juga berada di bawah kedaulatan Tuhan.
Perhatikan bahwa ayat tersebut tidak mengatakan bahwa uang adalah Tuhan.
Tidak juga mengatakan bahwa setiap orang percaya pasti menjadi kaya.
Ayat ini mengarahkan kita untuk mengingat sumber kemampuan kita.
Kemampuan untuk bekerja.
Kemampuan untuk berpikir.
Kemampuan untuk menciptakan.
Kemampuan untuk berinovasi.
Kemampuan untuk membangun.
Kemampuan untuk mengelola.
Kemampuan untuk menghasilkan.
Semua itu pada akhirnya berada di bawah pemberian dan pemeliharaan Tuhan.
Karena itu, ketika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepada seseorang, pertanyaannya bukan hanya:
"Berapa banyak yang saya punya?"
Tetapi:
"Seberapa setia saya mengelolanya?"
1.5 KEKAYAAN ADALAH TANGGUNG JAWAB
Semakin banyak yang dipercayakan, semakin besar pula tanggung jawab penatalayanannya.
Yesus berkata:
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
Prinsip ini sangat penting dalam kehidupan finansial.
Kesetiaan tidak dimulai ketika seseorang mempunyai jutaan rupiah atau jutaan euro.
Kesetiaan dimulai dari apa yang ada di tangannya sekarang.
Bagaimana seseorang menggunakan €10 dapat menunjukkan sesuatu tentang karakternya.
Bagaimana seseorang mengelola €100 dapat menunjukkan sesuatu tentang kedisiplinannya.
Bagaimana seseorang mengelola €1.000 dapat menunjukkan sesuatu tentang kebijaksanaannya.
Jumlah dapat berubah.
Prinsip kesetiaan tetap sama.
Karena itu, jangan menunggu menjadi kaya untuk belajar menjadi penatalayan yang baik.
Belajarlah menjadi penatalayan yang baik terlebih dahulu.
1.6 KEKAYAAN BUKAN TUJUAN AKHIR
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jika kita menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir, kita akan selalu membutuhkan lebih banyak.
Lebih banyak uang.
Lebih banyak aset.
Lebih banyak pengakuan.
Lebih banyak status.
Lebih banyak kekuasaan.
Tetapi Alkitab mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimilikinya.
Dalam Lukas 12:15, Yesus berkata:
"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."
Masalahnya bukan sekadar memiliki harta.
Masalahnya adalah ketika harta menjadi ukuran kehidupan.
Ketika kekayaan menjadi identitas.
Ketika uang menjadi sumber keamanan utama.
Ketika pencapaian finansial menggantikan Tuhan.
Ketika seseorang mulai melayani uang daripada menggunakan uang sebagai alat.
1.7 MASALAH TERBESAR BUKAN KEKAYAAN, MELAINKAN HATI
Yesus berkata:
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Ini adalah salah satu prinsip paling penting dalam pembahasan kekayaan menurut Alkitab.
Harta memiliki hubungan dengan hati.
Apa yang kita lakukan dengan uang dapat mengungkapkan apa yang kita anggap penting.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting daripada:
"Apakah aku punya banyak uang?"
adalah:
"Apa yang terjadi pada hatiku karena uang yang aku punya?"
Apakah aku menjadi lebih sombong?
Lebih takut?
Lebih egois?
Lebih terikat?
Atau justru semakin mampu memberi, melayani, membangun, dan menjadi berkat?
Kekayaan dapat menjadi alat yang sangat kuat.
Tetapi alat yang kuat membutuhkan tangan yang bertanggung jawab.
1.8 KEKAYAAN HARUS MEMILIKI TUJUAN
Kejadian 12:2 memberikan sebuah prinsip besar:
"Aku akan memberkati engkau ... dan engkau akan menjadi berkat."
Berkat tidak berhenti pada penerimanya.
Ada sebuah arah:
Tuhan → kita → orang lain.
Tuhan memberkati Abraham, tetapi berkat itu tidak dimaksudkan untuk berhenti pada Abraham.
Demikian pula, ketika Tuhan mempercayakan sumber daya kepada kita, pertanyaannya bukan hanya:
"Apa yang bisa aku beli?"
Tetapi:
"Apa yang bisa aku bangun?"
"Siapa yang bisa aku bantu?"
"Nilai apa yang bisa aku ciptakan?"
"Kehidupan siapa yang dapat menjadi lebih baik?"
"Bagaimana sumber daya ini dapat digunakan untuk tujuan yang lebih besar daripada diriku sendiri?"
Inilah perspektif Kerajaan Allah tentang penatalayanan.
1.9 DARI KEKAYAAN MENUJU DAMPAK
Kekayaan dalam perspektif Alkitab tidak berhenti pada akumulasi.
Ada perjalanan:
Resources → Stewardship → Generosity → Impact
Sumber daya → Penatalayanan → Kemurahan hati → Dampak
Karena itu, kekayaan yang sehat bukan hanya tentang berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga seberapa baik kita mengelolanya dan untuk apa kita menggunakannya.
Seseorang dapat mempunyai banyak uang tetapi menjadi miskin dalam tujuan.
Sebaliknya, seseorang dapat mempunyai sumber daya yang sederhana tetapi mengelolanya dengan kesetiaan, hikmat, dan kasih.
Ukuran kehidupan bukan sekadar jumlah.
Ada juga karakter.
Ada tanggung jawab.
Ada tujuan.
Ada dampak.
1.10 PRINSIP UTAMA BAB INI
Jika kita harus merangkum seluruh bab ini dalam satu kalimat:
TUHAN ADALAH PEMILIK. KITA ADALAH PENATALAYAN.
Karena itu:
Kekayaan bukanlah tuan.
Kekayaan adalah sesuatu yang dipercayakan untuk dikelola.
Kita tidak dipanggil untuk menyembah kekayaan.
Kita juga tidak dipanggil untuk takut terhadap kekayaan.
Kita dipanggil untuk menempatkan kekayaan di tempat yang benar:
di bawah pemerintahan Tuhan.
Mazmur 24:1
Tuhan memiliki bumi dan segala isinya.
Ulangan 8:18
Tuhan memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan.
1 Tawarikh 29:11–12
Kekayaan, kehormatan, dan segala sesuatu berasal dari Tuhan.
Lukas 16:10
Kesetiaan dalam perkara kecil.
Matius 6:21
Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.
Lukas 12:15
Hidup tidak tergantung pada kelimpahan harta.
Kejadian 12:2
Diberkati untuk menjadi berkat.
Luangkan waktu untuk menjawab pertanyaan berikut dengan jujur:
Selama ini, apakah aku melihat uang sebagai milikku sepenuhnya atau sebagai sesuatu yang dipercayakan Tuhan?
Apa yang paling aku takutkan kehilangan: Tuhan atau harta?
Jika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepadaku, untuk apa aku akan menggunakannya?
Apakah cara aku menggunakan uang saat ini mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah?
Dalam area apa aku perlu menjadi penatalayan yang lebih setia?
Apakah aku sedang mengejar kekayaan sebagai alat atau menjadikannya sebagai tujuan?
Tuhan,
Terima kasih karena segala sesuatu berasal dari-Mu.
Ajarlah aku memahami bahwa apa pun yang ada di tanganku bukanlah alasan untuk menjadi sombong, melainkan kesempatan untuk menjadi penatalayan yang setia.
Berikan aku hikmat untuk mengelola uang, waktu, talenta, kesempatan, dan sumber daya yang Engkau percayakan kepadaku.
Jaga hatiku agar tidak diperbudak oleh kekayaan.
Ajarlah aku bekerja dengan tekun, berpikir dengan hikmat, membangun dengan integritas, memberi dengan murah hati, dan menggunakan apa yang kumiliki untuk tujuan yang berkenan kepada-Mu.
Jika suatu hari Engkau mempercayakan lebih banyak kepadaku, biarlah aku tidak melupakan siapa Pemilik sebenarnya.
Jadikan aku bukan hanya seseorang yang diberkati,
tetapi seseorang yang menjadi berkat.
Dalam nama Yesus,
Amin.