Bagian I — FONDASI
Bab 2
APA ITU KEKAYAAN?
Memahami Kekayaan dari Perspektif Alkitab
“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”
2.1 Kekayaan Lebih dari Sekadar Uang
Ketika mendengar kata kekayaan, hal pertama yang biasanya muncul dalam pikiran kita adalah uang.
Saldo rekening.
Rumah.
Mobil.
Tanah.
Bisnis.
Investasi.
Barang-barang berharga.
Semua itu memang dapat menjadi bagian dari kekayaan. Namun, jika kita ingin memahami kekayaan berdasarkan Alkitab, kita tidak dapat berhenti pada definisi tersebut.
Kekayaan material berkaitan dengan berbagai bentuk harta dan sumber daya ekonomi yang seseorang miliki atau kelola. Namun, sumber daya manusia jauh lebih luas daripada kekayaan material: waktu, pendidikan, keterampilan, kreativitas, pengalaman, relasi, dan kesempatan juga dapat menjadi sumber daya yang digunakan untuk menciptakan nilai.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya:
"Berapa banyak yang saya punya?"
melainkan:
"Apa yang Tuhan percayakan kepada saya, dan untuk apa saya mengelolanya?"
Inilah perubahan cara pandang yang penting.
Kekayaan bukan hanya persoalan jumlah. Kekayaan juga merupakan persoalan tanggung jawab.
2.2 Kekayaan dalam Dunia Alkitab
Alkitab tidak hanya berbicara mengenai uang dalam bentuk modern seperti yang kita kenal sekarang.
Dalam konteks Alkitab, kekayaan dapat berkaitan dengan:
ternak,
tanah,
hasil panen,
rumah,
emas dan perak,
perdagangan,
tenaga kerja,
sumber daya,
hasil pekerjaan,
dan berbagai bentuk kepemilikan lainnya.
Abraham, misalnya, disebut:
“Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.”
Ishak juga mengalami pertumbuhan ekonomi yang nyata:
“Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”
Yakub pun mengalami peningkatan dalam kepemilikan dan sumber daya:
“Maka sangatlah kaya orang itu, dan mempunyai banyak kambing domba, budak-budak perempuan dan laki-laki, unta dan keledai.”
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Alkitab menggambarkan beberapa tokoh memiliki kekayaan material yang nyata. Namun, kisah-kisah tersebut tidak boleh diubah menjadi formula bahwa orang yang hidup setia kepada Tuhan pasti menjadi kaya.
Namun, Alkitab juga tidak pernah mengajarkan bahwa memiliki banyak harta adalah tujuan tertinggi manusia.
Di sinilah kita perlu memahami perbedaan antara memiliki kekayaan dan dikuasai oleh kekayaan.
2.3 Kekayaan adalah Sumber Daya yang Dipercayakan
Kembali kepada prinsip dari bab sebelumnya:
Tuhan adalah Pemilik. Kita adalah penatalayan.
Jika segala sesuatu berasal dari Tuhan, maka apa yang berada di tangan kita harus dipandang sebagai sesuatu yang dipercayakan.
Ini mengubah cara kita melihat uang.
Uang bukan lagi sekadar:
"Ini milikku."
Tetapi:
"Tuhan mempercayakan ini kepadaku. Bagaimana aku harus mengelolanya?"
Perubahan kecil dalam kalimat tersebut menghasilkan perubahan besar dalam cara hidup.
Ketika seseorang memahami dirinya sebagai penatalayan, ia mulai bertanya:
Apakah cara saya mendapatkan uang benar?
Apakah pekerjaan saya menghasilkan nilai?
Apakah saya mengelola penghasilan dengan bijaksana?
Apakah saya menggunakan uang secara bertanggung jawab?
Apakah saya menabung?
Apakah saya mengembangkan apa yang dipercayakan?
Apakah saya membantu orang lain?
Apakah kekayaan saya melayani tujuan Tuhan?
Dengan demikian, kekayaan bukan hanya sesuatu yang dimiliki, tetapi sesuatu yang dikelola.
2.4 Kekayaan Memiliki Bentuk yang Berbeda
Tidak semua orang menerima bentuk sumber daya yang sama.
Ada orang yang memiliki modal finansial besar.
Ada yang memiliki keterampilan.
Ada yang memiliki pendidikan.
Ada yang memiliki jaringan.
Ada yang memiliki tanah.
Ada yang memiliki bisnis.
Ada yang memiliki kemampuan menciptakan sesuatu.
Ada yang memiliki waktu dan tenaga.
Ada yang memiliki kreativitas.
Ada yang memiliki kesempatan yang tidak dimiliki orang lain.
Semua ini dapat menjadi sumber daya yang dapat dikelola.
Karena itu, jangan terlalu cepat berkata:
"Saya tidak punya apa-apa."
Mungkin yang dimaksud sebenarnya adalah:
"Saya belum memiliki banyak uang."
Itu berbeda.
Seseorang mungkin belum memiliki kekayaan finansial yang besar, tetapi sudah memiliki kemampuan, waktu, pendidikan, kreativitas, tenaga, relasi, atau kesempatan yang dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai.
Tuhan dapat bekerja melalui apa yang sudah ada di tangan kita.
2.5 Prinsip "Apa yang Ada di Tanganmu?"
Salah satu pola yang menarik dalam Alkitab adalah Tuhan sering kali memulai dari apa yang sudah dimiliki seseorang, bukan dari apa yang belum dimilikinya.
Ketika Musa dipanggil Tuhan, Tuhan bertanya:
“Apakah yang di tanganmu itu?”
Jawabannya?
Sebuah tongkat.
Tongkat tersebut tampaknya sederhana. Tetapi di tangan Tuhan, sesuatu yang sederhana dapat menjadi alat untuk menjalankan tujuan yang besar.
Prinsip ini bukan berarti setiap benda yang kita miliki secara otomatis akan berubah menjadi kekayaan finansial. Keluaran 4:2 adalah bagian dari narasi panggilan Musa; penerapannya di sini adalah prinsip penatalayanan, bukan teori finansial yang diberikan secara langsung oleh teks.
Tetapi prinsipnya adalah:
Jangan meremehkan apa yang Tuhan sudah tempatkan di tanganmu.
Kemampuan yang sekarang terlihat kecil dapat dikembangkan.
Pengetahuan dapat diperdalam.
Keterampilan dapat diasah.
Ide dapat dikembangkan.
Pekerjaan dapat dilakukan dengan keunggulan.
Relasi dapat dibangun dengan integritas.
Sumber daya dapat dikelola.
Dan dari proses tersebut, nilai dapat tercipta.
2.6 Kekayaan dan Kemampuan Menciptakan Nilai
Salah satu prinsip penting dalam memahami kekayaan adalah nilai.
Kekayaan material dapat bertumbuh ketika seseorang mampu menggunakan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai bagi orang lain, meskipun hasil ekonominya juga dipengaruhi oleh banyak faktor di luar kendali seseorang.
Seorang petani menggunakan tanah, benih, tenaga, waktu, dan pengetahuan untuk menghasilkan makanan.
Seorang pengusaha menggabungkan modal, ide, tenaga kerja, sistem, dan keberanian untuk menciptakan produk atau layanan.
Seorang guru menggunakan pengetahuan dan waktunya untuk membantu orang lain bertumbuh.
Seorang dokter menggunakan pendidikan dan keterampilannya untuk melayani kebutuhan manusia.
Seorang kreator menggunakan kreativitas dan teknologi untuk menghasilkan sesuatu yang dikonsumsi atau digunakan orang lain.
Dengan demikian, pekerjaan bukan hanya sarana untuk mendapatkan gaji.
Pekerjaan juga dapat menjadi sarana untuk menciptakan nilai.
Dan ketika nilai diciptakan secara konsisten, secara etis, dan dengan pengelolaan yang baik, nilai tersebut dapat menghasilkan sumber daya ekonomi.
2.7 Hikmat Lebih Berharga daripada Kekayaan
Namun ada sesuatu yang bahkan lebih fundamental daripada kekayaan itu sendiri: hikmat.
Amsal berkata:
“Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.”
Perhatikan urutannya.
Alkitab tidak mengatakan bahwa emas tidak memiliki nilai.
Justru emas dan perak diakui memiliki nilai.
Tetapi hikmat memiliki nilai yang lebih besar.
Mengapa?
Karena seseorang dapat memiliki uang tanpa mengetahui bagaimana mengelolanya.
Seseorang dapat memiliki bisnis tanpa memiliki karakter.
Seseorang dapat memiliki modal tanpa memiliki disiplin.
Seseorang dapat memperoleh keuntungan tetapi kehilangan integritas.
Seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi menghancurkan keluarganya karena keserakahan.
Karena itu:
Kekayaan tanpa hikmat dapat menjadi beban.
Sebaliknya:
Hikmat membantu seseorang mengelola sumber daya dengan benar.
Itulah sebabnya e-book ini tidak akan hanya berbicara tentang bagaimana mendapatkan lebih banyak, tetapi juga tentang bagaimana menjadi pribadi yang mampu mengelola lebih banyak.
2.8 Kekayaan Bukan Identitas
Ada satu kesalahan lain yang harus kita hindari.
Kita tidak boleh menjadikan kekayaan sebagai identitas.
Kita bukan:
"Saya adalah mobil saya."
Kita bukan:
"Saya adalah rumah saya."
Kita bukan:
"Saya adalah saldo rekening saya."
Kita bukan:
"Saya adalah bisnis saya."
Dan kita juga bukan:
"Saya adalah kemiskinan saya."
Nilai manusia tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimilikinya.
Yesus berkata:
“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
Ini adalah salah satu fondasi terpenting dalam pembahasan kekayaan.
Harta dapat menjadi bagian dari kehidupan kita, tetapi harta tidak boleh menjadi definisi kehidupan kita.
2.9 Kekayaan Harus Berada di Bawah Otoritas Tuhan
Masalahnya bukan sekadar berapa banyak yang kita miliki.
Masalah yang lebih dalam adalah:
Siapa yang memiliki hati kita?
Seseorang dapat memiliki sedikit tetapi sangat terikat kepada uang.
Seseorang juga dapat memiliki banyak tetapi tetap memandang hartanya sebagai sesuatu yang dipercayakan Tuhan dan menggunakannya dengan tanggung jawab.
Karena itu, Alkitab tidak hanya berbicara mengenai jumlah harta, tetapi mengenai posisi harta di dalam hati manusia.
Yesus berkata:
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Perhatikan bahwa Yesus tidak hanya berbicara tentang dompet.
Ia berbicara tentang hati.
Kekayaan menjadi berbahaya ketika kekayaan mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Tuhan.
2.10 Kekayaan yang Sehat vs Kekayaan yang Menguasai
Kita dapat memiliki uang tanpa mencintai uang.
Kita dapat memiliki bisnis tanpa menyembah bisnis.
Kita dapat menikmati keberhasilan tanpa menjadikan keberhasilan sebagai identitas.
Kita dapat memiliki rumah yang baik tanpa menganggap rumah tersebut sebagai sumber keamanan tertinggi.
Kita dapat bekerja untuk memperoleh penghasilan tanpa menjadikan uang sebagai tuhan.
Inilah salah satu kedewasaan yang ingin dibangun oleh pembahasan ini:
Bukan menolak kekayaan, tetapi menempatkan kekayaan pada tempat yang benar.
Tuhan tetap menjadi Tuhan.
Kita tetap menjadi penatalayan.
Kekayaan tetap menjadi alat.
Dan tujuan tetap lebih besar daripada harta itu sendiri.
2.11 Kekayaan yang Memiliki Tujuan
Jika Tuhan mempercayakan sumber daya kepada kita, maka pertanyaan berikutnya adalah:
Untuk apa?
Untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Untuk bertanggung jawab terhadap keluarga.
Untuk mengembangkan pekerjaan.
Untuk menciptakan nilai.
Untuk membantu orang lain.
Untuk memberi.
Untuk membuka kesempatan bagi orang lain.
Untuk mendukung pekerjaan yang baik.
Untuk membangun sesuatu yang bermanfaat.
Dan pada akhirnya, untuk menjalankan tujuan yang Tuhan percayakan kepada kehidupan kita.
Karena itu, kekayaan yang sehat tidak berhenti pada:
"Berapa banyak yang bisa saya kumpulkan?"
Tetapi bergerak menuju:
"Berapa banyak nilai yang dapat saya ciptakan, kelola, dan salurkan dengan setia?"
2.12 Prinsip Utama Bab Ini
Mari kita rangkum.
Kekayaan bukan hanya uang.
Kekayaan mencakup berbagai sumber daya yang dapat dimiliki, dikembangkan, dan dikelola.
Kekayaan bukan identitas.
Nilai manusia tidak ditentukan oleh jumlah hartanya.
Kekayaan bukan tujuan akhir.
Kekayaan adalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk menjalankan tanggung jawab dan tujuan.
Kekayaan membutuhkan hikmat.
Semakin besar sesuatu yang dipercayakan kepada kita, semakin besar pula kebutuhan akan karakter, hikmat, disiplin, dan tanggung jawab.
Dan yang paling penting:
Kekayaan harus berada di bawah otoritas Tuhan, bukan Tuhan ditempatkan di bawah kekayaan.
Luangkan waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan jujur:
Ketika saya mendengar kata kekayaan, apa yang langsung muncul dalam pikiran saya?
Apakah saya selama ini mengukur kekayaan hanya berdasarkan uang?
Sumber daya apa yang sebenarnya sudah Tuhan percayakan kepada saya?
Keterampilan apa yang saya miliki tetapi belum saya kembangkan secara maksimal?
Apakah saya memandang pekerjaan hanya sebagai cara mendapatkan uang, atau sebagai kesempatan untuk menciptakan nilai?
Apakah uang mulai memengaruhi identitas atau rasa aman saya?
Jika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepada saya, apakah saya sudah memiliki karakter dan hikmat untuk mengelolanya?
Tuhan,
Terima kasih karena segala sesuatu berasal dari-Mu dan berada di bawah otoritas-Mu.
Ajarlah aku untuk memiliki pandangan yang benar tentang kekayaan. Jangan biarkan aku mengukur nilai hidupku berdasarkan apa yang aku miliki, dan jangan biarkan kekayaan mengambil tempat yang hanya seharusnya menjadi milik-Mu.
Berikan aku hikmat untuk mengenali apa yang telah Engkau percayakan kepadaku.
Ajarlah aku untuk mengembangkan kemampuan, menggunakan waktuku dengan baik, bekerja dengan tekun, menciptakan nilai, dan mengelola setiap sumber daya dengan penuh tanggung jawab.
Jika Engkau mempercayakan lebih banyak kepadaku, bentuklah terlebih dahulu karakterku agar aku mampu mengelolanya dengan setia.
Biarlah kekayaan tidak menjadi tujuanku, tetapi menjadi alat yang dapat kupakai untuk menjalankan tujuan yang Engkau berikan dalam hidupku.
Jadikan aku penatalayan yang setia, bukan hamba uang.
Dalam nama Yesus.
Amin.