Bagian I — FONDASI
Bab 3
APAKAH KEKAYAAN ITU JAHAT?
Memisahkan Kekayaan dari Cinta Uang
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
3.1 Pertanyaan yang Sering Muncul
Ketika seseorang mulai berbicara tentang kekayaan, hampir selalu muncul sebuah pertanyaan:
"Bukankah Alkitab mengatakan bahwa uang adalah akar segala kejahatan?"
Pertanyaan ini penting.
Sebab jika uang memang jahat, maka seorang percaya seharusnya menjauhi kekayaan.
Namun jika kita membaca ayat tersebut dengan teliti, Alkitab tidak mengatakan bahwa uang adalah akar segala kejahatan.
Paulus mengatakan:
"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang."
Yang menjadi persoalan bukan keberadaan uang.
Yang menjadi persoalan adalah cinta terhadap uang.
Ada perbedaan besar antara:
memiliki uang
dan
mencintai uang.
Antara:
menggunakan kekayaan
dan
menjadikan kekayaan sebagai tuhan.
Antara:
mencari penghasilan
dan
memburu uang sampai meninggalkan iman.
Perbedaan inilah yang perlu kita pahami.
3.2 Uang Adalah Alat, Bukan Tuhan
Uang pada dasarnya adalah alat pertukaran dan sumber daya ekonomi.
Dengan uang seseorang dapat membeli makanan, membayar tempat tinggal, membiayai pendidikan, menjalankan bisnis, membayar pekerja, membantu keluarga, mendukung pelayanan, dan memenuhi berbagai kebutuhan.
Karena itu, uang sendiri bukanlah objek moral yang otomatis jahat.
Yang menentukan persoalannya adalah:
Bagaimana uang diperoleh, bagaimana uang digunakan, dan posisi uang di dalam hati manusia.
Uang di tangan orang yang bijaksana dapat menjadi alat untuk melakukan kebaikan.
Namun uang di tangan hati yang dikuasai keserakahan dapat menjadi alat untuk menghancurkan.
Maka masalah utama bukan:
"Apakah saya memiliki uang?"
Tetapi:
"Apakah uang memiliki saya?"
3.3 Memiliki Kekayaan Tidak Dengan Sendirinya Merupakan Dosa
Menariknya, Alkitab memberikan beberapa contoh orang yang memiliki kekayaan besar.
Abraham disebut sangat kaya dalam ternak, perak, dan emas (Kejadian 13:2).
Ishak mengalami pertumbuhan kekayaan yang signifikan (Kejadian 26:13).
Yakub juga menjadi sangat kaya (Kejadian 30:43).
Boas disebut sebagai seorang yang kaya dan terpandang dalam Rut 2:1.
Daud memiliki sumber daya yang sangat besar dan bahkan memberikan persembahan dalam jumlah yang luar biasa untuk pembangunan Bait Allah (1 Tawarikh 29).
Jika kekayaan secara otomatis merupakan dosa, contoh-contoh tersebut akan menjadi sangat sulit dijelaskan.
Namun Alkitab tidak memberikan kesimpulan:
"Karena mereka kaya, berarti mereka pasti benar."
Demikian pula Alkitab tidak mengatakan:
"Karena mereka memiliki harta, berarti mereka pasti berdosa."
Yang Alkitab lakukan adalah memperlihatkan bagaimana hati dan tindakan seseorang berhubungan dengan kekayaannya.
3.4 Yang Berbahaya adalah Cinta Uang
Mari kembali kepada 1 Timotius 6.
Paulus sebelumnya berbicara tentang orang yang menganggap ibadah sebagai sarana untuk memperoleh keuntungan, kemudian memberikan peringatan tentang mereka yang ingin menjadi kaya dan jatuh ke dalam pencobaan serta berbagai jerat.
Lalu ia berkata:
"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang."
Dengan demikian, fokus peringatannya adalah keinginan yang tidak terkendali terhadap kekayaan.
Ketika uang berubah dari alat menjadi pusat kehidupan, manusia dapat mulai:
mengorbankan integritas demi keuntungan,
berbohong demi transaksi,
menipu demi margin,
mengeksploitasi orang lain,
mengabaikan keluarga,
mengorbankan waktu bersama Tuhan,
mengambil keputusan hanya berdasarkan keuntungan,
dan akhirnya meninggalkan nilai-nilai yang sebelumnya ia pegang.
Uang tidak lagi berada di tangannya.
Ia berada di tangan uang.
3.5 Ada Perbedaan antara Ambisi dan Keserakahan
Ini juga penting bagi orang yang ingin membangun bisnis atau meningkatkan kondisi finansialnya.
Memiliki ambisi untuk bertumbuh tidak otomatis berarti serakah.
Seorang pengusaha dapat ingin membangun perusahaan yang lebih besar.
Seorang pekerja dapat ingin meningkatkan keterampilannya agar memperoleh penghasilan yang lebih baik.
Seseorang dapat ingin memiliki rumah.
Seseorang dapat ingin mencapai kebebasan finansial.
Seseorang dapat ingin membangun bisnis yang menciptakan lapangan kerja.
Keinginan untuk bertumbuh tidak otomatis salah.
Yang harus diperiksa adalah:
Apa yang menggerakkan ambisi tersebut?
Apakah:
"Saya ingin menjadi kaya supaya semua orang mengagumi saya."
Atau:
"Saya ingin bertumbuh supaya saya dapat menjalankan tanggung jawab, menciptakan nilai, membangun sesuatu yang baik, dan memiliki kapasitas untuk memberkati orang lain."
Dari luar, kedua orang tersebut mungkin sama-sama sedang membangun bisnis.
Namun orientasi hatinya dapat sangat berbeda.
3.6 Kekayaan Mengungkapkan Hati
Kekayaan memiliki kemampuan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di dalam hati seseorang.
Jika seseorang memiliki sedikit uang tetapi terus-menerus iri kepada orang lain, masalahnya mungkin bukan jumlah uangnya.
Jika seseorang memiliki banyak uang tetapi selalu takut kehilangan semuanya, masalahnya mungkin bukan jumlah hartanya.
Jika seseorang terus mengejar lebih banyak meskipun kebutuhannya sudah terpenuhi, masalahnya mungkin bukan kekurangan sumber daya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih dalam adalah:
"Apa yang saya percaya akan diberikan oleh uang kepada saya?"
Keamanan?
Status?
Pengakuan?
Kebebasan?
Kekuasaan?
Penerimaan?
Identitas?
Jika kita mengharapkan uang memberikan sesuatu yang hanya dapat diberikan oleh Tuhan, kita sedang menempatkan uang pada posisi yang salah.
3.7 Ketika Kekayaan Menjadi Tuhan
Yesus berkata:
“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan... Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”
Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata:
"Kamu tidak boleh memiliki uang."
Ia berkata bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan Mamon.
Masalahnya adalah pengabdian.
Uang dapat menjadi tuan ketika keputusan hidup kita mulai dikendalikan sepenuhnya oleh uang.
Kita mulai berkata:
"Saya akan melakukan apa saja selama menghasilkan uang."
Kemudian integritas dikorbankan.
Kita mulai berkata:
"Saya tidak punya waktu untuk Tuhan karena saya sedang mengejar kesuksesan."
Kemudian hubungan dengan Tuhan dikorbankan.
Kita mulai berkata:
"Saya harus memiliki lebih banyak supaya saya merasa cukup."
Kemudian rasa cukup tidak pernah datang.
Pada titik tersebut, uang telah berubah dari alat menjadi tuan.
3.8 Kekayaan Bukan Ukuran Nilai Seseorang
Dunia sering mengajarkan bahwa semakin banyak seseorang memiliki, semakin berharga dirinya.
Alkitab memberikan perspektif yang berbeda.
Yesus berkata:
“Walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”
Artinya, seseorang dapat memiliki banyak harta tanpa memiliki kehidupan yang benar-benar kaya.
Ia dapat memiliki rekening besar tetapi hati yang kosong.
Rumah besar tetapi keluarga yang hancur.
Bisnis besar tetapi kehidupan yang kehilangan arah.
Popularitas tinggi tetapi tidak memiliki damai sejahtera.
Karena itu, kekayaan finansial tidak boleh digunakan sebagai ukuran utama nilai seseorang.
Kita adalah ciptaan Tuhan sebelum kita menjadi pemilik bisnis, pekerja, investor, atau profesional.
3.9 Tetapi Apakah Salah Jika Saya Ingin Kaya?
Tidak semua keinginan untuk memiliki kehidupan finansial yang lebih baik harus dianggap salah.
Pertanyaan yang lebih sehat adalah:
"Mengapa saya ingin kaya?"
Jika jawabannya adalah:
"Supaya saya bisa membeli apa pun yang saya mau dan tidak membutuhkan Tuhan."
Kita perlu berhenti dan memeriksa hati.
Namun jika seseorang berkata:
"Saya ingin memiliki kapasitas finansial agar dapat memenuhi tanggung jawab saya, menciptakan lapangan kerja, membantu keluarga, memberi kepada orang yang membutuhkan, membangun sesuatu yang bermanfaat, dan mendukung pekerjaan Tuhan."
Maka motivasinya perlu dinilai berdasarkan karakter, integritas, dan kesetiaannya kepada Tuhan, bukan sekadar berdasarkan keinginannya untuk bertumbuh secara finansial.
Keinginan untuk bertumbuh harus selalu berada di bawah ketundukan kepada Tuhan.
3.10 Kaya Bukan Tujuan Tertinggi
Ada bahaya ketika buku tentang kekayaan justru membuat pembacanya semakin terobsesi dengan kekayaan.
Karena itu, kita perlu sangat jelas:
Tujuan hidup orang percaya bukan menjadi kaya.
Tujuan hidup kita adalah hidup dalam hubungan dengan Tuhan, menjalankan kehendak-Nya, menjadi serupa dengan Kristus, dan setia terhadap apa yang dipercayakan-Nya.
Kekayaan dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Kekayaan dapat menjadi alat.
Kekayaan dapat memperluas kapasitas.
Kekayaan dapat menciptakan kesempatan.
Kekayaan dapat digunakan untuk memberkati.
Tetapi kekayaan tidak boleh menggantikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
3.11 Prinsip Utama Bab Ini
Mari kita pegang beberapa kebenaran sederhana:
Uang bukan Tuhan.
Kekayaan bukan dosa secara otomatis.
Kemiskinan bukan otomatis tanda kesalehan.
Kekayaan bukan otomatis tanda perkenanan Tuhan.
Keinginan untuk bertumbuh bukan otomatis keserakahan.
Yang harus dijaga adalah hati.
Karena itu, masalah sebenarnya bukan:
"Apakah saya boleh memiliki kekayaan?"
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
"Apakah saya dapat memiliki kekayaan tanpa membiarkan kekayaan memiliki hati saya?"
Dan lebih jauh lagi:
"Jika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepada saya, apakah saya akan tetap menjadi milik-Nya dan tetap menggunakan apa yang saya miliki untuk tujuan-Nya?"
Luangkan waktu untuk menjawab dengan jujur:
Apa pandangan saya selama ini tentang orang Kristen dan kekayaan?
Apakah saya pernah menganggap bahwa menjadi kaya otomatis berarti tidak rohani?
Apakah saya pernah menganggap bahwa menjadi kaya otomatis berarti diberkati Tuhan?
Mengapa sebenarnya saya ingin memiliki lebih banyak uang?
Apa yang saya harapkan uang dapat berikan kepada saya?
Apakah ada area di mana uang mulai mengendalikan keputusan saya?
Jika Tuhan memberikan kekayaan lebih besar kepada saya, apakah hati saya akan tetap tertuju kepada-Nya?
Tuhan,
Ajarlah aku memiliki pandangan yang benar tentang uang dan kekayaan.
Jangan biarkan aku takut terhadap kekayaan, tetapi jangan pula biarkan aku diperbudak olehnya.
Jaga hatiku dari cinta uang, keserakahan, iri hati, dan keinginan untuk menjadikan kekayaan sebagai sumber identitas, keamanan, atau kebahagiaanku.
Berikan aku hikmat untuk memperoleh dan mengelola sumber daya dengan cara yang benar.
Jika Engkau mempercayakan lebih banyak kepadaku, biarlah kekayaan itu tidak menjauhkan aku dari-Mu, tetapi justru menjadi alat yang dapat kugunakan dengan setia untuk menjalankan tanggung jawab dan tujuan yang Engkau berikan.
Biarlah aku memiliki uang tanpa uang memiliki hatiku.
Engkaulah Tuhanku.
Bukan kekayaan.
Bukan kesuksesan.
Bukan harta.
Dalam nama Yesus.
Amin.