Bagian II — MEMBANGUN KAPASITAS
Bab 4
TUHAN MEMBERIKAN KEKUATAN UNTUK MEMPEROLEH KEKAYAAN
Ulangan 8:18 — Kekayaan Dimulai dari Kapasitas
“Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.”
4.1 Kekayaan Tidak Dimulai dari Uang
Ketika seseorang ingin memiliki kondisi finansial yang lebih baik, biasanya pertanyaan pertama adalah:
"Bagaimana saya mendapatkan lebih banyak uang?"
Namun Alkitab membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
"Apakah saya memiliki kapasitas untuk mengelola dan menghasilkan lebih banyak?"
Inilah yang membuat Ulangan 8:18 begitu menarik.
Ayat ini tidak hanya mengatakan bahwa Tuhan memberikan kekayaan.
Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan.
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Tuhan bukan hanya peduli pada hasil.
Dia juga dapat membentuk kapasitas yang menghasilkan hasil tersebut.
Kapasitas itu dapat mencakup:
hikmat,
kemampuan,
keterampilan,
kreativitas,
ketekunan,
keberanian,
kemampuan mengambil keputusan,
kemampuan melihat peluang,
kemampuan bekerja,
dan kemampuan mengelola apa yang dipercayakan.
Dalam penerapannya, kemampuan tersebut dapat terlihat melalui pekerjaan, keterampilan, kreativitas, ketekunan, pengambilan keputusan, dan kemampuan mengelola sumber daya. Ini adalah penerapan modern dari prinsip tersebut, bukan daftar definisi literal dari kata "kekuatan" dalam ayat itu.
Karena itu, terkadang doa yang lebih tepat bukan hanya:
"Tuhan, berikan aku lebih banyak."
Tetapi:
"Tuhan, bentuklah aku menjadi pribadi yang mampu mengelola lebih banyak."
4.2 Konteks Ulangan 8:18
Ulangan 8 berbicara kepada bangsa Israel ketika mereka sedang belajar memasuki kehidupan baru setelah perjalanan panjang di padang gurun.
Musa memperingatkan mereka agar jangan melupakan Tuhan ketika mereka nantinya mengalami kelimpahan.
Mereka akan memiliki makanan, tanah yang menghasilkan, ternak, rumah, dan kehidupan yang lebih baik.
Bahaya yang muncul bukan hanya kekurangan.
Kelimpahan juga memiliki bahaya.
Ketika seseorang mulai berhasil, ia dapat berkata dalam hatinya:
"Kekuasaanku dan kekuatan tanganku-lah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."
Musa kemudian mengingatkan:
"Haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu..."
Mengapa?
Karena kemampuan untuk memperoleh kekayaan itu sendiri tidak boleh dipisahkan dari Tuhan.
Jadi Ulangan 8:18 sebenarnya mengajarkan dua hal sekaligus:
Tuhan adalah sumber.
Dan:
manusia memiliki tanggung jawab untuk menggunakan kapasitas yang diberikan kepadanya.
4.3 Tuhan Memberikan Kekuatan, Bukan Kemalasan
Ini adalah bagian yang sangat penting.
Jika Tuhan memberikan "kekuatan untuk memperoleh kekayaan", ayat ini bukan alasan untuk duduk diam dan menunggu uang datang.
Sebaliknya, kita melihat prinsip bahwa Tuhan dapat memberikan kapasitas, sementara manusia dipanggil untuk menggunakannya.
Amsal 10:4 berkata:
"Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya."
Dan Amsal 21:5 mengatakan:
"Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan."
Ada sebuah prinsip sederhana:
Doa tidak menggantikan tanggung jawab.
Meminta Tuhan memberkati pekerjaan kita tidak berarti kita berhenti bekerja.
Meminta hikmat tidak berarti kita berhenti belajar.
Meminta kesempatan tidak berarti kita berhenti mempersiapkan diri.
Meminta pertumbuhan tidak berarti kita menolak proses.
Iman dan tanggung jawab berjalan bersama.
4.4 Tuhan Dapat Memberikan Ide yang Menghasilkan Nilai
Kekayaan sering kali dimulai dari sesuatu yang tidak terlihat sebagai uang.
Sebuah ide.
Sebuah solusi.
Sebuah keterampilan.
Sebuah penemuan.
Sebuah produk.
Sebuah layanan.
Sebuah bisnis.
Sebuah cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.
Di sinilah kreativitas menjadi penting.
Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan untuk berpikir, menciptakan, membangun, memecahkan masalah, dan mengembangkan sesuatu.
Karena itu, jangan hanya berdoa:
"Tuhan, berikan aku uang."
Belajarlah juga berdoa:
"Tuhan, bukakan mataku untuk melihat kebutuhan yang dapat aku layani dan nilai yang dapat aku ciptakan."
Sebab sering kali peluang ekonomi muncul ketika seseorang mampu menyelesaikan masalah nyata bagi orang lain.
4.5 Kekayaan dan Penciptaan Nilai
Mari kita sederhanakan.
Bayangkan seseorang memiliki sebuah keterampilan.
Pada awalnya, keterampilan tersebut mungkin hanya menghasilkan sedikit.
Tetapi ia terus belajar.
Ia meningkatkan kualitas pekerjaannya.
Ia memahami kebutuhan orang lain.
Ia menjadi lebih efisien.
Ia membangun reputasi.
Ia menciptakan sistem.
Ia mungkin kemudian membangun bisnis.
Ia mempekerjakan orang lain.
Nilai yang diciptakannya semakin besar.
Dan sebagai konsekuensinya, kapasitas ekonominya dapat bertumbuh.
Proses seperti ini berbeda dengan sekadar mengejar uang.
Fokusnya adalah:
"Apa yang dapat saya ciptakan yang benar-benar bernilai?"
Ini adalah pola pikir yang sehat tentang kekayaan.
4.6 Jangan Meremehkan Skill yang Tuhan Berikan
Banyak orang menginginkan hasil besar tetapi tidak mau mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk menghasilkan hasil tersebut.
Mereka ingin bisnis besar tetapi tidak mau belajar bisnis.
Ingin penghasilan tinggi tetapi tidak mau meningkatkan keterampilan.
Ingin memimpin tetapi tidak mau membangun karakter.
Ingin mengelola banyak uang tetapi tidak mampu mengelola uang sedikit.
Ingin kesempatan besar tetapi tidak mempersiapkan diri ketika kesempatan itu datang.
Kita perlu memahami:
Potensi yang tidak dikembangkan tetaplah potensi.
Ia belum menjadi kapasitas.
Dan kapasitas membutuhkan proses.
Belajar.
Latihan.
Kegagalan.
Evaluasi.
Disiplin.
Pengulangan.
Kesabaran.
4.7 Tuhan Dapat Membawa Kita Melalui Proses
Ada kalanya masa penantian atau proses menjadi ruang yang Tuhan gunakan untuk membentuk kita, tetapi kita tidak selalu mengetahui alasan mengapa suatu hal tertunda atau tidak terjadi.
Kita meminta:
"Tuhan, berikan aku tanggung jawab yang lebih besar."
Tetapi Tuhan mungkin mulai mengajarkan kita bertanggung jawab terhadap hal-hal kecil.
Kita meminta:
"Tuhan, berikan aku bisnis."
Tetapi Tuhan mungkin terlebih dahulu mengajarkan kita disiplin.
Kita meminta:
"Tuhan, berikan aku pengaruh."
Tetapi Tuhan mungkin terlebih dahulu mengajarkan kita kerendahan hati.
Kita meminta:
"Tuhan, berikan aku kekayaan."
Tetapi dalam proses tersebut, kita dapat belajar mengelola apa yang sudah ada.
Proses tersebut terkadang tidak nyaman.
Tetapi pertumbuhan sering kali memang demikian.
Tuhan dapat menggunakan proses kehidupan untuk membentuk siapa diri kita ketika kita menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.
4.8 Jangan Menganggap Proses sebagai Penolakan Tuhan
Ada musim kehidupan ketika seseorang merasa:
"Mengapa semuanya begitu sulit?"
Namun tidak setiap kesulitan berarti Tuhan sedang menutup pintu.
Terkadang sebuah musim sulit menjadi tempat seseorang belajar:
disiplin,
kesabaran,
ketekunan,
pengendalian diri,
pengelolaan,
keberanian,
hikmat,
dan ketergantungan kepada Tuhan.
Bayangkan emas.
Emas tidak dimurnikan dengan dibiarkan begitu saja.
Ia melewati proses pemurnian.
Demikian pula perak harus melalui proses untuk dipisahkan dari kotorannya.
Gambaran-gambaran ini mengingatkan kita bahwa proses dapat memiliki tujuan pembentukan.
Bukan berarti setiap penderitaan otomatis berarti seseorang sedang dipersiapkan menjadi kaya.
Tetapi kita dapat belajar bahwa karakter dan kapasitas sering kali dibentuk melalui musim kehidupan yang tidak mudah.
4.9 Potensi Harus Dipertanggungjawabkan
Yesus memberikan perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14–30.
Seorang tuan mempercayakan talenta kepada hamba-hambanya dengan jumlah yang berbeda.
Dua orang mengembangkan apa yang dipercayakan kepada mereka.
Satu orang menyembunyikannya.
Yang menarik adalah sang tuan kemudian meminta pertanggungjawaban.
Perumpamaan ini menunjukkan prinsip yang sangat penting:
Apa yang dipercayakan kepada kita bukan hanya untuk disimpan, tetapi untuk dikelola dengan setia.
Talenta dalam perumpamaan tersebut memiliki konteks spesifik dan tidak boleh dipaksakan menjadi sekadar formula investasi modern.
Namun prinsip penatalayanannya sangat jelas:
Apa yang dipercayakan harus diperlakukan dengan tanggung jawab.
4.10 Kekayaan Membutuhkan Kapasitas
Bayangkan seseorang tiba-tiba menerima jumlah uang yang sangat besar tetapi tidak memiliki:
disiplin,
hikmat,
pengendalian diri,
kemampuan mengelola,
pengetahuan finansial,
dan karakter yang sehat.
Apakah uang tersebut otomatis menjamin kehidupan yang lebih baik?
Tidak.
Bahkan sumber daya yang besar dapat dikelola dengan buruk.
Karena itu, salah satu doa paling penting bukan hanya:
"Tuhan, tambahkan."
Tetapi:
"Tuhan, tingkatkan kapasitas saya."
Tingkatkan hikmat saya.
Tingkatkan disiplin saya.
Tingkatkan kemampuan saya.
Tingkatkan karakter saya.
Ajarkan saya mengelola.
Ajarkan saya bekerja.
Ajarkan saya menciptakan.
Ajarkan saya memberi.
Dengan demikian, ketika sumber daya bertambah, kapasitas internal kita juga bertumbuh.
4.11 Jangan Menunggu "Sesuatu yang Besar"
Sering kali kita berpikir bahwa kehidupan akan berubah ketika sesuatu yang besar datang.
Bisnis besar.
Investor besar.
Kesempatan besar.
Gaji besar.
Modal besar.
Tetapi pertumbuhan biasanya dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Satu keterampilan.
Satu pekerjaan.
Satu pelanggan.
Satu ide.
Satu kebiasaan.
Satu keputusan yang benar.
Satu langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu:
Jangan meremehkan permulaan yang kecil.
Apa yang kecil hari ini dapat dikembangkan dengan hikmat, ketekunan, dan kesetiaan, meskipun hasil akhirnya tidak selalu dapat kita tentukan.
4.12 Kekayaan Harus Tetap Mengarah kepada Tuhan
Ada satu hal yang tidak boleh kita lewatkan.
Ulangan 8:18 tidak berakhir pada:
"Tuhan memberimu kekuatan supaya kamu kaya."
Ayat tersebut menghubungkannya dengan perjanjian Tuhan.
Dengan kata lain, kekayaan tidak boleh dipisahkan dari hubungan manusia dengan Tuhan dan tujuan-Nya.
Karena itu, ketika seseorang mengalami keberhasilan, respons yang benar bukan:
"Lihat apa yang berhasil aku lakukan."
Tetapi:
"Tuhan, terima kasih karena Engkau mempercayakan kemampuan dan kesempatan ini kepadaku. Ajarlah aku menggunakannya dengan benar."
Kita bekerja.
Kita belajar.
Kita membangun.
Kita mengembangkan.
Kita mengelola.
Tetapi kita tidak mengambil posisi Tuhan sebagai sumber segala sesuatu.
4.13 Prinsip Utama Bab Ini
Kekayaan tidak hanya berbicara tentang apa yang kita miliki.
Kekayaan juga berbicara tentang kapasitas kita untuk menghasilkan dan mengelola sesuatu yang bernilai.
Tuhan dapat memberikan kemampuan.
Tetapi kemampuan perlu dikembangkan.
Tuhan dapat memberikan kesempatan.
Tetapi kesempatan perlu dipersiapkan.
Tuhan dapat mempercayakan sumber daya.
Tetapi sumber daya perlu dikelola.
Karena itu:
Jangan hanya meminta Tuhan memperbesar hasilmu. Mintalah Dia memperbesar kapasitasmu.
Sebab ketika kapasitas bertumbuh, kita dapat menjadi semakin mampu memikul tanggung jawab yang lebih besar. Namun, kapasitas yang bertumbuh bukan jaminan bahwa seseorang pasti menjadi kaya secara finansial.
Dan ketika Tuhan mempercayakan lebih banyak, biarlah kita tidak hanya memiliki tangan yang lebih penuh, tetapi juga karakter yang lebih kuat.
Kemampuan apa yang Tuhan sudah percayakan kepadaku?
Skill (keterampilan) apa yang perlu aku kembangkan?
Apakah aku lebih banyak berdoa meminta hasil atau meminta Tuhan membentuk kapasitas?
Apakah ada proses sulit dalam hidupku yang sedang mengajarkanku disiplin, kesabaran, atau ketekunan?
Apakah aku sedang mempersiapkan diri untuk tanggung jawab yang lebih besar?
Apa satu hal kecil yang dapat mulai aku kembangkan dengan lebih serius hari ini?
Tuhan,
Terima kasih karena Engkau adalah sumber segala sesuatu yang baik dalam hidupku.
Terima kasih untuk kemampuan, kesempatan, kreativitas, tenaga, waktu, dan setiap sumber daya yang telah Engkau percayakan kepadaku.
Ajarlah aku untuk tidak hanya meminta hasil yang besar, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengelolanya.
Berikan aku hikmat untuk belajar.
Berikan aku disiplin untuk bekerja.
Berikan aku ketekunan untuk bertahan.
Berikan aku keberanian untuk bertumbuh.
Berikan aku kerendahan hati untuk terus dibentuk.
Ketika aku melewati proses yang sulit, tolong aku untuk tidak selalu melihatnya sebagai penolakan, tetapi belajar bertanya:
"Tuhan, apa yang sedang Engkau bentuk di dalam diriku?"
Kembangkan potensiku dan ajarlah aku menggunakan setiap kemampuan yang Engkau berikan dengan setia.
Dan jika suatu hari Engkau mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepadaku, biarlah aku siap bukan hanya karena tanganku telah menerima lebih banyak, tetapi karena karakterku telah dibentuk untuk mengelolanya.
Semua yang aku miliki berasal dari-Mu.
Semua yang aku capai adalah kesempatan untuk memuliakan-Mu.
Dan semua yang Engkau percayakan kepadaku ingin kugunakan dengan setia.
Dalam nama Yesus.
Amin.