Daftar IsiELIONA
··

Bagian III — PENATALAYANAN

Bab 8

KETIKA KEKAYAAN MENGUASAI HATI

Memiliki Kekayaan Tanpa Dikuasai Kekayaan

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Matius 6:21

8.1 Masalahnya Bukan Harta, tetapi Hati

Kita sudah melihat bahwa kekayaan bukanlah sesuatu yang otomatis jahat.

Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada memiliki kekayaan:

ketika kekayaan mulai memiliki hati kita.

Seseorang dapat memiliki banyak uang tetapi tetap hidup dengan hati yang tertuju kepada Tuhan.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sangat sedikit tetapi pikirannya sepanjang hari hanya dipenuhi uang.

Karena itu, ukuran kesehatan finansial bukan hanya:

"Berapa banyak yang saya punya?"

Tetapi juga:

"Seberapa besar tempat uang di dalam hati saya?"

Masalah terbesar bukan selalu jumlah harta yang kita miliki.

Masalahnya adalah ketika harta mulai mengambil tempat yang seharusnya hanya dimiliki Tuhan.

Kita dapat memiliki uang.

Kita dapat memiliki bisnis.

Kita dapat memiliki rumah.

Kita dapat memiliki aset.

Kita dapat memiliki keberhasilan.

Tetapi semua itu harus tetap berada di bawah otoritas Tuhan.

8.2 Matius 6:19–24

Dalam Matius 6, Yesus berbicara tentang harta, hati, mata, dan kemudian tentang dua tuan.

Ia berkata:

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi..."

Kemudian:

"Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."

Dan akhirnya:

"Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Ketiga bagian ini saling berhubungan.

Yesus tidak sedang memberikan larangan sederhana terhadap kepemilikan.

Ia sedang berbicara tentang orientasi hati manusia.

Apa yang kita anggap paling berharga?

Apa yang kita kejar?

Apa yang membuat kita merasa aman?

Apa yang kita takut kehilangan?

Apa yang menentukan keputusan kita?

Di sanalah hati kita sering terlihat.

Harta dapat berada di tangan kita tanpa menjadi pusat hati kita.

Tetapi ketika harta mulai menentukan nilai diri, keamanan, keputusan, dan arah hidup kita, sesuatu telah berubah.

8.3 Ketika Uang Menjadi Sumber Keamanan

Uang memang memberikan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan.

Tetapi uang bukan sumber keamanan tertinggi.

Masalah muncul ketika hati mulai berkata:

"Kalau saya punya cukup uang, saya tidak akan takut lagi."

Lalu jumlah "cukup" terus meningkat.

€1.000 tidak cukup.

€10.000 tidak cukup.

€100.000 tidak cukup.

€1 juta pun belum tentu cukup.

Bukan karena kebutuhan manusia selalu sebesar itu.

Tetapi karena rasa aman tidak dapat dipuaskan hanya dengan akumulasi.

Paulus menasihati orang-orang kaya:

“Janganlah mereka berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah...”
1 Timotius 6:17

Kekayaan dapat berubah.

Pasar dapat berubah.

Bisnis dapat berubah.

Pekerjaan dapat berubah.

Tetapi Tuhan tetap menjadi dasar pengharapan kita.

Karena itu, memiliki uang bukan masalah.

Menjadikan uang sebagai tempat kita menaruh seluruh pengharapan adalah masalah.

8.4 Keserakahan Tidak Pernah Berkata "Cukup"

Keserakahan memiliki karakter yang menarik:

Ia selalu meminta sedikit lebih banyak.

"Kalau aku punya ini, aku akan puas."

Kemudian ketika mendapatkannya:

"Satu lagi."

Kemudian:

"Sedikit lagi."

Akhirnya hidup berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

Yesus memberikan peringatan yang sangat jelas:

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan...”
Lukas 12:15

Mengapa?

Karena manusia dapat memiliki banyak tetapi tetap hidup dalam kekurangan batin.

Keserakahan tidak selalu terlihat seperti keinginan untuk menjadi miliarder.

Keserakahan dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih sederhana:

selalu merasa kurang,

selalu membandingkan,

selalu ingin memiliki lebih banyak,

selalu takut kehilangan,

atau merasa bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik hanya jika memiliki lebih banyak uang.

Masalahnya bukan keinginan untuk bertumbuh.

Masalahnya adalah ketika tidak ada lagi titik di mana hati mampu berkata, "Tuhan, aku bersyukur."

8.5 Kisah Orang Kaya yang Bodoh

Dalam Lukas 12:13–21, Yesus menceritakan seseorang yang tanahnya menghasilkan panen berlimpah.

Ia berpikir:

"Apakah yang harus aku perbuat?"

Ia kemudian memutuskan untuk merombak lumbung-lumbungnya dan membangun yang lebih besar supaya ia dapat menyimpan seluruh hasilnya.

Kemudian ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia memiliki banyak harta untuk bertahun-tahun.

Masalahnya bukan karena ia memiliki hasil panen.

Masalahnya bukan karena ia bekerja.

Masalahnya bukan karena ia memiliki lumbung.

Masalahnya adalah seluruh orientasi hidupnya berhenti pada dirinya sendiri.

Tidak ada pemikiran tentang Tuhan.

Tidak ada pemikiran tentang orang lain.

Tidak ada pemikiran tentang tujuan.

Yang ada hanya:

"Aku... aku... aku..."

Yesus menyebutnya bodoh.

Mengapa?

Karena ia berhasil mengumpulkan harta tetapi gagal memahami kehidupan.

Ia berpikir bahwa banyak harta berarti banyak tahun kehidupan yang aman.

Tetapi Tuhan berkata kepadanya:

"Pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu."

Kisah ini bukan mengajarkan bahwa memiliki hasil panen atau menyimpan harta itu dosa.

Yang dibongkar Yesus adalah kehidupan yang berpusat pada kekayaan tetapi tidak berpusat pada Tuhan.

Seseorang dapat berhasil secara finansial tetapi gagal memahami tujuan hidupnya.

8.6 Orang Kaya dan Kerajaan Allah

Salah satu bagian yang sering menimbulkan pertanyaan dalam pembahasan tentang kekayaan adalah kisah orang muda yang kaya dalam Matius 19:16–26.

Orang ini datang kepada Yesus dan bertanya:

"Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Yesus kemudian berbicara kepadanya tentang perintah-perintah Allah.

Orang tersebut menjawab bahwa semuanya telah ia lakukan.

Kemudian Yesus berkata:

“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin...”
Matius 19:21

Lalu Alkitab mengatakan bahwa ketika mendengar perkataan itu, orang muda tersebut pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Setelah itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Matius 19:23

Perkataan ini sangat serius.

Tetapi kita juga perlu membacanya dalam konteks.

Yesus tidak sedang memberikan sebuah rumus bahwa:

kaya = berdosa

atau:

miskin = pasti masuk Kerajaan Allah.

Yang terlihat jelas dalam kisah tersebut adalah bahwa harta orang muda itu memperlihatkan sesuatu tentang hatinya dan apa yang sulit ia lepaskan ketika diperhadapkan dengan panggilan Yesus.

Ia memiliki banyak.

Tetapi ketika harus memilih antara hartanya dan mengikuti Yesus, hartanya menjadi penghalang.

Inilah mengapa Yesus menggunakan gambaran yang sangat kuat:

"Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Para murid kemudian bertanya:

"Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"

Jawaban Yesus sangat penting:

“Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”
Matius 19:26

Dengan demikian, bagian ini tidak boleh digunakan untuk mengatakan bahwa semua orang kaya pasti ditolak oleh Allah.

Sebaliknya, bagian ini memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik kekayaan terhadap hati manusia.

Kekayaan dapat membuat seseorang merasa mandiri.

Kekayaan dapat memberikan rasa aman.

Kekayaan dapat membuat seseorang merasa memiliki kendali.

Kekayaan dapat membuat seseorang sulit melepaskan sesuatu yang telah menjadi bagian dari identitasnya.

Karena itu, pertanyaan yang lebih dalam bukan:

"Apakah aku kaya?"

Tetapi:

"Apakah aku bersedia menempatkan apa pun yang kumiliki di bawah pemerintahan Kristus?"

Kekayaan tidak boleh menjadi sesuatu yang membuat kita tidak mampu berkata:

"Tuhan, Engkaulah yang terutama."

Kita dapat memiliki banyak dan tetap mengikuti Tuhan.

Tetapi kita juga perlu terus memeriksa hati ketika sumber daya dan tanggung jawab bertambah. Bukan karena orang yang lebih kaya otomatis lebih buruk secara rohani, melainkan karena kekayaan dapat menjadi keterikatan yang kuat bagi siapa pun.

Bukan karena kekayaan selalu jahat, tetapi karena hati manusia mudah melekat kepadanya.

8.7 Kekayaan Tidak Bisa Membeli Makna

Seseorang dapat membeli tempat tinggal, tetapi tidak dapat membeli rumah tangga yang penuh kasih.

Dapat membeli tempat tidur, tetapi tidak dapat membeli tidur yang damai.

Dapat membeli makanan, tetapi tidak dapat membeli kesehatan secara mutlak.

Dapat membeli hiburan, tetapi tidak dapat membeli sukacita yang mendalam.

Dapat membeli perhatian, tetapi tidak dapat membeli kasih yang tulus.

Karena itu, kekayaan memiliki batas.

Uang sangat berguna.

Tetapi uang bukan jawaban untuk setiap kebutuhan manusia.

Jangan meminta uang memberikan apa yang hanya Tuhan dapat berikan.

8.8 Contentment — Belajar Merasa Cukup

Paulus memberikan perspektif yang sangat sehat:

“Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
Filipi 4:11

Perhatikan kata:

belajar.

Rasa cukup bukan selalu sesuatu yang otomatis.

Ia dipelajari.

Artinya, seseorang dapat memiliki ambisi untuk bertumbuh dan pada saat yang sama belajar merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan hari ini.

Ini bukan kontradiksi.

Kita dapat berkata:

"Saya bersyukur dengan apa yang saya miliki hari ini, tetapi saya juga ingin bertumbuh dan menjadi lebih baik."

Rasa cukup bukan berarti berhenti berkembang.

Rasa cukup berarti:

Pertumbuhan saya tidak bergantung pada rasa bahwa saya harus memiliki lebih banyak agar saya merasa berharga.

Kita boleh memiliki tujuan finansial.

Kita boleh ingin membangun bisnis.

Kita boleh ingin meningkatkan penghasilan.

Kita boleh ingin memiliki aset.

Tetapi hati kita tidak boleh berkata:

"Aku baru akan merasa berharga ketika aku memiliki lebih banyak."

8.9 Ambisi yang Sehat

Kita sudah membahas bahwa keinginan untuk bertumbuh bukan otomatis keserakahan.

Sekarang kita bisa melihat batasnya.

Ambisi sehat berkata:

"Saya ingin mengembangkan potensi yang Tuhan berikan."

Keserakahan berkata:

"Saya harus memiliki lebih banyak supaya saya lebih berharga."

Ambisi sehat berkata:

"Saya ingin membangun sesuatu yang bernilai."

Keserakahan berkata:

"Saya tidak peduli siapa yang dirugikan selama saya mendapatkan lebih banyak."

Ambisi sehat berkata:

"Saya ingin bertumbuh supaya kapasitas saya semakin besar untuk melayani dan bertanggung jawab."

Keserakahan berkata:

"Saya ingin lebih banyak karena tidak pernah merasa cukup."

Perbedaannya bukan sekadar pada jumlah uang.

Perbedaannya ada di hati.

8.10 Jangan Membandingkan Kekayaanmu dengan Orang Lain

Media sosial membuat perbandingan semakin mudah.

Kita melihat:

rumah orang lain,

mobil orang lain,

liburan orang lain,

bisnis orang lain,

pakaian orang lain,

pencapaian orang lain.

Kemudian kita mulai merasa hidup kita kurang.

Padahal kita hanya melihat bagian yang ditampilkan, bukan seluruh kehidupan mereka.

Perbandingan dapat membuat kita membeli sesuatu bukan karena kita membutuhkannya, tetapi karena kita ingin terlihat seperti orang lain.

Akibatnya, kita membangun kehidupan berdasarkan persepsi orang lain, bukan berdasarkan hikmat.

Kekayaan yang sehat tidak membutuhkan kita untuk membuktikan sesuatu kepada dunia.

Kita tidak perlu menjadi kaya hanya supaya terlihat berhasil.

Kita juga tidak perlu merasa gagal hanya karena kehidupan kita terlihat lebih sederhana daripada kehidupan orang lain.

Tuhan tidak memanggil kita untuk menjalani kehidupan orang lain.

Ia memanggil kita untuk setia terhadap apa yang dipercayakan kepada kita.

8.11 Identitas Tidak Berasal dari Kekayaan

Jika identitas kita bergantung pada uang, maka ketika uang bertambah kita menjadi sombong.

Ketika uang berkurang kita merasa tidak berharga.

Keduanya berbahaya.

Identitas yang sehat tidak berkata:

"Aku berharga karena aku kaya."

Tetapi juga tidak berkata:

"Aku tidak berharga karena aku belum kaya."

Nilai kita tidak naik ketika saldo naik.

Nilai kita juga tidak turun ketika saldo turun.

Kekayaan adalah sesuatu yang kita kelola.

Bukan sesuatu yang menentukan siapa kita.

Karena itu, kita harus mampu mengatakan:

"Aku dapat memiliki kekayaan tanpa menjadikan kekayaan sebagai identitasku."

8.12 Tuhan Dapat Mempercayakan Kekayaan Tanpa Menjadikannya Pusat Hidup

Ini adalah keseimbangan yang ingin dibangun buku ini.

Kita tidak perlu takut menjadi kaya.

Kita juga tidak perlu mengejar kekayaan sampai kehilangan Tuhan.

Kita dapat berkata:

"Tuhan, jika Engkau mempercayakan lebih banyak kepadaku, biarlah hatiku tetap menjadi milik-Mu."

Itulah kedewasaan.

Bukan menolak sumber daya.

Bukan menyembah sumber daya.

Tetapi mengelolanya di bawah otoritas Tuhan.

Kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kita dapat membangun bisnis.

Kita dapat meningkatkan kemampuan.

Kita dapat memperoleh penghasilan.

Kita dapat memiliki aset.

Kita dapat menikmati hasil kerja.

Tetapi di atas semuanya itu, Tuhan tetap menjadi Tuhan.

Kekayaan berada di tangan kita.

Bukan di atas hati kita.

8.13 Prinsip Utama Bab Ini

Kekayaan dapat berada di tangan kita tanpa berada di atas hati kita.

Kita boleh bertumbuh.

Kita boleh bekerja.

Kita boleh membangun.

Kita boleh memiliki.

Kita boleh menikmati.

Tetapi:

Jangan pernah membiarkan apa yang ada di tanganmu mengambil tempat Tuhan di dalam hatimu.

Orang kaya dalam Lukas 12 mengingatkan kita bahwa harta yang berlimpah tidak menjamin kehidupan yang bermakna.

Orang muda yang kaya dalam Matius 19 mengingatkan kita bahwa kekayaan dapat menjadi keterikatan yang membuat seseorang sulit mengikuti Kristus.

Karena itu, pertanyaan terbesarnya bukan:

"Seberapa kaya saya?"

Tetapi:

"Siapa yang menjadi Tuan atas hidup saya?"

Kekayaan bukanlah tuan.

Kekayaan adalah sesuatu yang dipercayakan.

Dan ketika Tuhan mempercayakan lebih banyak, kita dipanggil untuk tetap mengingat:

Tuhan lebih berharga daripada apa pun yang dapat kita miliki.

REFLECTION — REFLEKSI

Luangkan waktu untuk menjawab dengan jujur:

Apa yang paling saya takut kehilangan?

Apakah uang menjadi sumber keamanan utama saya?

Apakah saya sering membandingkan kondisi finansial saya dengan orang lain?

Apakah saya dapat bersyukur dengan apa yang saya miliki sambil tetap berusaha bertumbuh?

Apa arti "cukup" bagi saya?

Apakah ada sesuatu yang saya miliki yang terasa sulit saya lepaskan jika Tuhan memintanya?

Jika kekayaan saya meningkat secara drastis, apa yang saya takut akan berubah dalam diri saya?

Apakah Tuhan masih menjadi pusat keputusan finansial saya?

Jika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepada saya, apakah hati saya akan tetap menjadi milik-Nya?

PRAYER — DOA

Tuhan,

Jaga hatiku.

Ajarlah aku memiliki kekayaan tanpa diperbudak olehnya.

Berikan aku kemampuan untuk bertumbuh tanpa menjadi serakah.

Ajarlah aku bekerja keras tanpa menjadikan uang sebagai tuhan.

Ajarlah aku menikmati pemberian-Mu tanpa melupakan Sang Pemberi.

Ketika aku memiliki sedikit, ajarlah aku bersyukur.

Ketika aku memiliki banyak, ajarlah aku tetap rendah hati.

Jauhkan aku dari iri hati, perbandingan, keserakahan, dan kebutuhan untuk membuktikan nilai diriku melalui apa yang aku miliki.

Ketika Engkau mempercayakan lebih banyak kepadaku, jangan biarkan kekayaan mengambil tempat-Mu di dalam hatiku.

Ajarlah aku seperti yang Engkau kehendaki: memiliki dengan tangan yang terbuka, mengelola dengan hikmat, memberi dengan sukacita, dan tetap menjadikan Engkau sebagai pusat hidupku.

Biarlah aku selalu mengingat bahwa identitasku tidak ditemukan dalam kekayaan, tetapi di dalam Engkau.

Jika suatu hari Engkau mempercayakan lebih banyak kepadaku, biarlah aku tidak menjadi hamba kekayaan, tetapi tetap menjadi penatalayan yang setia.

Biarlah aku memiliki kekayaan tanpa kekayaan memiliki hatiku.

Engkaulah Tuhanku.

Bukan kekayaan.

Bukan kesuksesan.

Bukan harta.

Hanya Engkau.

Dalam nama Yesus.

Amin.