Daftar IsiELIONA
··

Bagian IV — DAMPAK

Bab 9

DIBERKATI UNTUK MENJADI BERKAT

Ketika Kekayaan Tidak Berhenti di Tangan Kita

“Aku akan memberkati engkau... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
Kejadian 12:2

9.1 Untuk Apa Tuhan Memberkati?

Ada sebuah pemikiran yang sangat mudah muncul ketika kita berbicara tentang kekayaan:

"Tuhan memberkati saya supaya saya memiliki kehidupan yang lebih nyaman."

Ada benarnya bahwa Tuhan dapat memberikan kemampuan untuk menikmati hasil kerja dan memenuhi kebutuhan kita. Tetapi jika pemahaman kita berhenti di sana, kita kehilangan sesuatu yang sangat penting.

Ketika Tuhan berkata kepada Abraham:

"Aku akan memberkati engkau..."

kalimat tersebut tidak berhenti di sana.

Ada kelanjutannya:

"...dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Ada sebuah arah:

Tuhan → Abraham → orang lain.

Inilah salah satu prinsip terindah tentang kekayaan:

Berkat yang dipercayakan kepada kita tidak dimaksudkan hanya untuk berhenti pada diri kita.

9.2 Diberkati Bukan Berarti Harus Memiliki Semuanya

Menjadi berkat tidak berarti kita harus menyelesaikan semua masalah dunia.

Kita tidak mungkin membantu semua orang.

Kita tidak mungkin memenuhi semua kebutuhan.

Dan kita juga tidak perlu merasa bersalah ketika menggunakan uang untuk kebutuhan diri sendiri dan keluarga.

Penatalayanan yang sehat mencakup kemampuan untuk menerima, mengelola, menikmati, dan memberi.

Keseimbangan itu penting.

Ada waktu untuk bekerja.

Ada waktu untuk menyimpan.

Ada waktu untuk menikmati.

Ada waktu untuk memberi.

Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam rasa bersalah terhadap setiap bentuk kenyamanan.

Kita dipanggil untuk menggunakan apa yang kita miliki dengan hikmat dan kemurahan hati.

9.3 Generosity — Kemurahan Hati

Paulus berkata:

“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan...”
2 Korintus 9:7

Perhatikan:

kerelaan hati.

Kemurahan hati bukan transaksi untuk membeli berkat Tuhan.

Kita tidak memberi supaya Tuhan "berutang" kepada kita.

Kita memberi karena kita memahami bahwa segala sesuatu yang kita miliki pada akhirnya berasal dari Tuhan.

Daud mengungkapkan perspektif yang luar biasa ketika ia mempersiapkan persembahan untuk pembangunan Bait Allah:

“Sebab segala sesuatu itu berasal dari pada-Mu dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.”
1 Tawarikh 29:14

Inilah hati seorang penatalayan.

"Tuhan, aku memberikan dari apa yang sebenarnya berasal dari-Mu."

9.4 Memberi Bukan Hanya tentang Uang

Ketika kita mendengar kata "memberi", kita sering langsung memikirkan uang.

Namun kemurahan hati jauh lebih luas.

Kita dapat memberikan:

uang,

waktu,

pengetahuan,

keterampilan,

kesempatan,

perhatian,

dukungan,

pekerjaan,

nasihat,

dan sumber daya.

Seseorang yang mengajarkan keterampilannya kepada orang lain sedang memberikan sesuatu.

Seorang pengusaha yang menciptakan pekerjaan memberikan kesempatan.

Seseorang yang membantu orang lain memulai usaha memberikan pengetahuan.

Seseorang yang menggunakan sumber dayanya untuk menolong keluarga sedang menjadi berkat.

Karena itu:

Kekayaan dapat menjadi salah satu alat kemurahan hati, tetapi kemurahan hati tidak terbatas pada uang.

9.5 Kekayaan yang Menghasilkan Orang Lain

Bayangkan seorang pengusaha memiliki modal.

Ia dapat menyimpannya sendiri.

Tetapi ia juga dapat menggunakannya untuk membangun bisnis.

Bisnis tersebut kemudian membutuhkan pekerja.

Pekerja mendapatkan penghasilan.

Mereka memenuhi kebutuhan keluarga.

Anak-anak mereka mendapatkan pendidikan.

Mereka membayar kebutuhan hidup.

Ekonomi di sekitar mereka ikut bergerak.

Satu sumber daya dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada nilai awalnya.

Inilah salah satu alasan mengapa menciptakan nilai dan lapangan kerja dapat menjadi bentuk kontribusi yang berarti.

Bisnis yang sehat tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi pemilik.

Ia juga dapat menghasilkan nilai bagi pelanggan dan kesempatan bagi orang lain.

9.6 Lydia: Seorang Pengusaha yang Membuka Rumahnya

Dalam Kisah Para Rasul 16, kita bertemu dengan Lydia.

Ia disebut sebagai seorang penjual kain ungu dari Tiatira.

Ia mendengarkan pemberitaan Paulus, menerima Injil, dan kemudian membuka rumahnya bagi Paulus dan rekan-rekannya.

Kisah Lydia menarik karena kita melihat bagaimana pekerjaan, sumber daya, rumah, iman, dan keramahan dapat bertemu dalam satu kehidupan.

Kisah ini dapat menjadi gambaran bahwa pekerjaan dan iman tidak harus diperlakukan sebagai dua dunia yang terpisah.

Dalam narasi ini, sumber daya yang ia miliki menjadi salah satu cara ia melayani.

Ini memberi kita gambaran:

Bisnis dan iman tidak harus menjadi dua dunia yang terpisah.

9.7 Memberi Tidak Harus Menunggu Kaya

Ada pemikiran:

"Nanti kalau saya sudah kaya, baru saya akan memberi."

Tetapi kemurahan hati sebaiknya dibangun sebelum kita memiliki banyak.

Mengapa?

Karena memberi adalah kebiasaan hati.

Jika kita tidak belajar memberi ketika memiliki sedikit, lebih banyak uang tidak otomatis membuat kita lebih murah hati.

Justru sebaliknya, lebih banyak uang dapat membuat kita semakin terbiasa menyimpan semuanya untuk diri sendiri.

Karena itu:

Belajarlah menjadi berkat sekarang.

Tidak perlu menunggu jumlah yang besar.

9.8 Kekayaan yang Mengalir

Bayangkan sebuah sungai.

Air yang terus mengalir tetap segar.

Tetapi jika semuanya berhenti di satu tempat, ia dapat menjadi genangan.

Kekayaan juga dapat menjadi seperti itu.

Ketika hanya dikumpulkan untuk diri sendiri, orientasinya menjadi semakin sempit.

Tetapi ketika dikelola dengan benar dan sebagian disalurkan kepada keluarga, pekerja, komunitas, orang yang membutuhkan, pelayanan, pendidikan, dan berbagai tujuan yang baik, kekayaan dapat menghasilkan dampak yang lebih luas.

Tentu saja, kita tidak harus memberikan semuanya.

Kita tetap memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawab kita.

Prinsipnya adalah:

Jangan hanya bertanya bagaimana kekayaan dapat datang kepadamu. Bertanyalah juga ke mana kekayaan dapat mengalir melalui dirimu.

9.9 Tuhan Tidak Memanggil Semua Orang dengan Jumlah yang Sama

Ini penting.

Jangan menjadikan kehidupan finansial orang lain sebagai standar hubunganmu dengan Tuhan.

Seseorang mungkin memiliki bisnis besar.

Orang lain memiliki usaha kecil.

Seseorang mungkin memiliki banyak aset.

Orang lain sedang membangun kehidupan dari nol.

Seseorang mungkin memiliki kapasitas untuk memberi dalam jumlah besar.

Orang lain memberi dalam jumlah kecil tetapi dengan hati yang tulus.

Kisah janda miskin dalam Markus 12 menunjukkan bahwa besarnya nominal tidak selalu menggambarkan besarnya pengorbanan.

Yesus bahkan memuji seorang janda yang memberikan dua peser karena pemberiannya mencerminkan pengorbanannya (Markus 12:41–44).

Karena itu:

Nilai kemurahan hati tidak hanya ditentukan oleh jumlah yang diberikan, tetapi juga oleh hati di balik pemberian tersebut.

9.10 Diberkati untuk Menjadi Berkat

Kita kembali kepada Abraham.

Tuhan berkata:

"Aku akan memberkati engkau... dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

Ini memberikan sebuah pola:

Diterima → dikelola → dikembangkan → disalurkan.

Tuhan dapat memberikan sumber daya kepada kita.

Kita mengelolanya.

Kita mengembangkannya.

Kemudian sebagian dari apa yang kita miliki dapat digunakan untuk menghasilkan kebaikan bagi orang lain.

Dengan demikian, kekayaan menjadi sesuatu yang produktif dan berorientasi pada tujuan.

9.11 Prinsip Utama Bab Ini

Kekayaan tidak harus berhenti di tangan kita.

Ia dapat menjadi alat untuk:

membangun,

menolong,

menciptakan kesempatan,

mendidik,

memberi,

melayani,

dan menghasilkan dampak.

Karena itu:

Jangan hanya mengejar kemampuan untuk memiliki lebih banyak. Bangun juga kapasitas untuk memberi lebih banyak.

Sebab pada akhirnya, kehidupan yang kaya bukan hanya kehidupan yang memiliki banyak.

Tetapi kehidupan yang mampu membuat apa yang dimilikinya berarti bagi orang lain.

REFLECTION — REFLEKSI

Siapa yang dapat diberkati melalui apa yang Tuhan percayakan kepadaku?

Apakah aku melihat uang hanya sebagai sesuatu untuk memenuhi kebutuhan pribadi?

Apa yang dapat kuberikan selain uang?

Apakah aku sudah membangun kebiasaan memberi?

Bagaimana pekerjaan atau bisnis yang kulakukan dapat menciptakan nilai bagi orang lain?

Jika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepadaku, kepada siapa atau kepada apa aku ingin menyalurkannya?

PRAYER — DOA

Tuhan,

Terima kasih untuk setiap berkat dan sumber daya yang Engkau percayakan kepadaku.

Ajarlah aku untuk tidak hanya menerima, tetapi juga menjadi saluran berkat.

Berikan aku hati yang murah hati tanpa menjadi tidak bijaksana.

Ajarlah aku mengelola uang dengan baik, sehingga aku memiliki kemampuan untuk menolong ketika ada kesempatan.

Gunakan pekerjaan, bisnis, keterampilan, waktu, dan sumber daya yang kumiliki untuk memberikan nilai bagi orang lain.

Ketika Engkau menambahkan sesuatu dalam hidupku, jangan biarkan tanganku hanya semakin penuh.

Biarlah hidupku juga semakin menjadi berkat.

Jadikan aku bukan hanya seseorang yang diberkati, tetapi seseorang yang melalui hidupnya orang lain turut mengalami kebaikan-Mu.

Dalam nama Yesus.

Amin.